Pemanfaatan ICT Dalam Pembelajaran Matematika Bagi Anak Usia Dini


Information Communication and Technologi (ICT) telah merambah dalam setiap bidang kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Peranan ICT dalam dunia pendidikan sangatlah besar, tidak hanya dikalangan perguruan tinggi semata namun juga pada pendidikan anak usia dini. Pada Amandemen Undang-Undang Dasar 1945, dinyatakan bahwa setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia (pasal 28 C ayat 2), dalam rangka mengembangkan diri anak usia dini, sekarang banyak kita dapati berbagai layanan pendidikan baik formal maupun non-formal. Apapun bentuk layanan tersebut, seyogyanya memperhatikan prinsip pembelajaran anak usia dini. Selain memperhatikan prinsip pembelajaran, cakupan materi yang diberikan juga sangat beragam sesuai dengan aspek perkembangan anak, salah satunya adalah aspek perkembangan kognitif. Dalam perkembangan kogninif, anak usia dini dibekali dengan pemahaman tentang matematika dasar seperti mengenal warna, bentuk, ukuran, pola, memecahkan masalah, bilangan dan berhitung. Menguasai keterampilan matematika dasar sangat penting karena hal tersebut terdapat dalam kehidupan nyata sehari-hari anak.
 Berbagai media dapat digunakan dari yang terdapat pada tubuh anak sendiri seperti jari tangan dan kaki, pakaian, juga peralatan makan warna-warni dan berbagai ukuran, balok-balok, tumbuhan, sampai multi media canggih dengan beragam program yang dirancang sesuai usia dan kebutuhan anak usia dini. Sekarang banyak didapati CD/VCD pembelajaran matematika dasar yang dikemas menarik dan dijual bebas di pasaran. Tinggal bagaimana kita sebagai orang tua/pendidik memilih yang sesuai kebutuhan dan ramah bagi anak. Untuk itulah, maka dalam makalah ini, kami membahas tentang ICT dan Matematika bagi Anak Usia Dini.
ICT (Information Communication and Technology) adalah sistem atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil, memindahkan, menganalisis, menyajikan, menyimpan dan menyampaikan data menjadi sebuah informasi. Pemahaman yang lebih umum istilah tersebut mengarah pada perkembangan teknologi komputer dan telekomunikasi/multimedia (dalam berbagai bentuknya), yang telah memiliki berbagai kemampuan sebagai pengolah data/informasi, alat kontrol, alat komunikasi, media pendidikan, hiburan dan lainya. Dari definisi ICT dan teknologi kunci dalam Domain TI jelas sekali bahwa teknologi informasi tidak bisa dilepaskan dengan teknologi komputer dan telekomunikasi.
Terdapat tiga prinsip dasar dalam ICT sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatannya, yaitu : pendekatan sistem, berorientasi pada siswa, dan pemanfaatan sumber belajar (Sadiman, 1984). Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu didesain/ perancangan dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang pembelajaran diperlukan langkah-langkah prosedural meliputi : identifikasi masalah, analisis keadaan, identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran, penetapan metode, penetapan media evaluasi pembelajaran (IDI model, 1989) . Prinsip berorientasi pada siswa berarti bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatiannya pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik,minat, potensi dari siswa. Prinsip pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran siswa hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya. Satu hal lagi bahwa teknologi dalam pendidikan adalah satu bidang yang menekankan pada aspek belajar siswa. Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dalam satu kegiatan pendidikan adalah bagaimana siswa dapat belajar, dengan cara mengidentifikasi, mengembangkan, mengorganisasi, serta menggunakan segala macam sumber belajar. Dengan demikian upaya pemecahan masalah dalam pendekatan ICT adalah dengan mendayagunakan sumber belajar.
Matematika merupakan proses kemampuan-kemampuan yang membantu anak sejak dini dengan kehidupan atau lingkungan di sekitar mereka, secara alamiah anak memperoleh kemampuan-kemampuan ini secara bertahap bahkan sampai bertahun-tahun untuk membangun pengetahuan dasar mereka, setiap anak memiliki perkembangan dan tahapan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatannya sebelum naik ke tingkat yang labih mahir, bahkan di antara mereka merupakan pemecah masalah yang hebat.
Belajar matematika terjadi alami seperti anak bermain. Anak usia dini menemukan, menguji serta menerapkan konsep matematika secara alami hampir setiap hari dalam hal yang mereka lakukan. Kegiatan belajar matematika secara sederhana terjadi dalam kehidupan sehari-hari anak, seperti saat orang tua menghitung bersama anaknya yang berumur empat tahun untuk mengetahui berapa balok yang digunakan untuk membangun jembatan.
Anak-anak usia dini juga melakukan kegiatan bermain matematika, seperti saat mereka sedang mendiskusikan cangkir siapa yang lebih besar atau ember mana yang memuat pasir lebih banyak. Mereka juga mengembangkan keahlian untuk menyelesaikan masalah dengan bekerja melalui pemecahan masalah di waktu bermain.
Kata "matematika" berasal dari kata (mathema) dalam bahasa Yunani yang diartikan sebagai "sains, ilmu pengetahuan, atau belajar" juga (mathematikos) yang diartikan sebagai "suka belajar" (Wikipedia Encyclopedia)
Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1991, h. 637) matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antar bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian persoalan mengenai bilangan. Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri (1982, h. 191) matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artificial, baru memiliki arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya, tanpa itu matematika hanya sebuah kumpulan rumus-rumus yang mati. Pusat Penelitian, Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Matematika Depdiknas merumuskan bahwa matematika merupakan buah pikiran manusia yang kebenarannya bersifat umum atau deduktif dan tidak tergantung dengan metode ilmiah yang memuat proses induktif. Kebenaran matematika bersifat koheren, artinya didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang telah diterima sebelumnya. Kebenaran matematika bersifat universal sesuai dengan semestanya.
Matematika memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mampu mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Sebagai contoh secara bahasa verbal kita dapat mengatakan bahwa gajah lebih besar daripada semut, namun jika kita ingin menelusuri lebih lanjut berapa besar gajah dibandingkan semut kita akan kesulitan dalam mengemukakan hubungan tersebut. Disinilah matematika berperan dalam mengembangkan konsep pengukuran dari kualitatif menuju kepada kuantitatif yang lebih bersifat eksak, tepat, dan cermat.
Konsep matematika modern sekarang ini tidak lagi hanya pada konsep bilangan, tetapi labih berkaitan dengan konsep-konsep abstrak di mana suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas alasan logis dengan menggunakan pembuktian deduktif. Matematika sebagai ilmu mengenai struktur dan hubungan-hubungannya memerlukan simbol-simbol untuk membantu memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang ditetapkan (Paimin, 1998). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika adalah sesuatu yang berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis melalui penalaran yang bersifat deduktif. Sedangkkan permainan matematika adalah kegiatan belajar konsep matematika melalui aktivitas bermain dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum membahas tujuan permainan Matematika pada anak usia dini, secara khusus terlebih dahulu akan dikemukakan tujuan Mata Pelajaran Matematika karena anak usia dini yang berusia enam/tujuh sampai dengan delapan tahun telah berada di Sekolah Dasar (SD). Menurut Peraturan Mentreri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, tujuan Mata Pelajaran Matematika adalah:
1.      Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2.   Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3.      Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4.  Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5.    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Lebih jauh, dalam Permendiknas dinyatakan bahwa: “Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).
Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.”
Secara umum permainan matematika pada Anak Usia Dini bertujuan agar anak dapat mengetahui dasar-dasar pembelajaran berhitung yang menarik, aman, nyaman dan menyenangkan, sehingga diharapkan nantinya anak akan memiliki kesiapan dalam pembelajaran matematika yang sesungguhnya kemudian hari.
Secara khusus permainan matematika bertujuan agar anak dapat memiliki kemampuan:
  1. Untuk berpikir logis dan sistematis sejak dini melalui pengamatan terhadap benda-benda konkrit, gambar-gambar ataupun angka-angka yang terdapat di sekitar anak.
  2. Untuk menyesuaikan dan melibatkan diri dalam kesehariannya memerlukan keterampilan berhitung.
  3. Untuk memahami konsep ruang dan waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan urutan suatu peristiwa yang terjadi di sekitarnya. 
  4. Untuk melakukan suatu aktivitas melalui daya abstraksi dan apresiasi yang tinggi serta ketelitian. 
  5. Untuk berkreativitas dan berimajinasi dalam menciptakan sesuatu secara spontan.
 Permainan matematika yang diberikan pada anak usia dini, bermanfaat antara lain:
1.      Membelajarkan anak dengan konsep matematika yang benar, menarik dan menyenangkan.
Mengingat bahwa untuk memahami konsep dasar matematika bukan merupakan sesuatu hal yang mudah, maka kegiatan belajar melalui bermain yang dilakukan haruslah menarik dan menyenangkan serta dapat memuaskan rasa keingintahuan anak.
2.      Untuk menghindari ketakutan terhadap matematika sejak awal.
Anak juga dapat mengembangkan ketakutan matematika. Kadang-kadang dalam proses kita mengajarkan matematika kepada anak, kita memaksa dan mendorong mereka sebelum mereka siap. Perlu diingat, bahwa anak usia dini membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi dan menemukan konsep matematika dengan cara mereka sendiri. Dalam suatu situasi dan lingkungan yang mendukung, bukan yang menghakimi, mereka tumbuh menjadi individu yang memandang matematika sebagai suatu bagian yang alami dan penting dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Membantu anak belajar matematika secara alami melalui kegiatan bermain.
Saat anak menemukan bentuk, rupa, rasa serta bahan-bahan lain di sekeliling mereka, dan menemukan hubungan antar objek.
Keterampilan yang dibutuhkan anak untuk memahami matematika adalah kemampuan untuk mengidentifikasi konsep-konsep matematika yang dapat dipelajari anak-anak melalui kegiatan bermain. Pada intinya, matematika merupakan salah satu cara dalam melatih anak untuk berpikir dengan cara-cara yang logis dan sistematis.
Beberapa hal yang dapat membantu perkembangan pengetahuan dan keterampilan anak secara alami yaitu: 1) Lingkungan yang baik dan mendukung, 2) Menyediakan bahan-bahan atau alat yang dapat mendorong anak untuk melakukan kegiatan bermain matematika, 3) Memberikan kesempatan untuk bermain dan bereksplorasi dengan bebas.
Berikut akan diuraikan tentang berbagai keterampilan yang dibutuhkan oleh anak untuk memahami konsep matematika, yaitu: menyusun pola atau gambar, penyortiran atau pengelompokkan, mengurutkan dan menyambungkan, memulai konsep angka dan pemecahan masalah.
1.      Patterning (menyusun pola atau gambar)
Patterning adalah menyusun rangkaian warna, bagian-bagian, benda-benda, suara-suara, gerakan-gerakan, yang dapat diulang. Di dalam menyusun dan menirukan pola ada suatu kebanggaan bagi anak jika ia berhasil melakukannya, namun bagaimanapun juga anak-anak tidak selalu memperoleh kemampuan menyusun secara berurutan. Oleh karena itu, sangat penting mengamati saat anak bermain untuk mengetahui kemampuan yang dimiliki anak dan kesulitan apa yang mereka alami saat menggunakan berbagai alat permainan.
Keterampilan menyusun sangat penting karena dalam mengenalkan dan mengkreasikan susunan membantu anak untuk bersosialisasi satu atau lebih dan memperluas pengetahuan mereka tentang persamaan dan perbedaan. Bekerja bersama teman lainnya akan sangat membantu mengembangkan keterampilan berpikir anak, misalnya belajar untuk mengamati (melihat sebagian atau keseluruhan) atau dapat juga dengan mengumpulkan (dengan melihat bagaimana dari sebagian hingga keseluruhan).

2.      Penyortiran atau pengelompokkan
Menyortir dan mengelompokkan benda-benda dengan kualitas yang sama adalah salah satu kegiatan yang populer untuk segala usia. Keterampilan menyortir dan mengelompokkan sangat penting karena kegiatan mengelompokkan dapat mengasah kemampuan mengamati pada anak tentang persamaan dan perbedaan sehingga anak akan menjadi lebih dari seorang ahli ketika sedang membandingkan benda-benda yang sudah dikenal atau diketahuinya, mengelompokkan juga membantu anak untuk lebih mengerti tentang sekelilingnya, dari yang berbeda menjadi satu dan bersama dalam satu kelompok.

3.      Mengurutkan dan menyambung
Kegiatan mengurutkan disebut juga dengan kegiatan seriasi. Seriasi merupakan identifikasi terhadap perbedaan, mengatur atau mengurutkan benda tersebut sesuai dengan perbedaannya. Dalam proses mengurutkan benda, anak mengembangkan cara berpikir mengenai sekelompok benda.
Mengurutkan dan menyambungkan merupakan keterampilan matematika yang penting karena merupakan dasar memahami banyak hal mengenai dunia di sekeliling kita, bahkan benda-benda yang diklasifikasikan bersama-sama berbeda derajatnya. Mengurutkan dan menyambungkan juga merupakan dasar memahami arti dan mengurutkan nomor. Anak mulai mengurutkan benda dengan karakteristik fisik, tetapi secara bertahap berkembang untuk mengurutkannya sesuai dengan kuantitas.

4.       Mulainya konsep angka
Konsep angka melibatkan pemikiran tentang “berapa jumlahnya atau berapa banyak”. Mulainya konsep angka termasuk menghitung, penjumlahan satu tambah satu, yang terpenting adalah mengerti konsep angka
Menghitung merupakan belajar mengenai nama angka, kemudian menggunakan nama angka tersebut untuk mengidentifikasi jumlah benda, menghitung merupakan kemampuan akal untuk menjumlahkan. Perbedaan angka dengan menunjukkan angka atau nomor adalah menunjuk angka ialah simbol atau lambang “5”, sebuah angka paham apa arti lima sesungguhnya. Anak belajar menunjukkan angka dengan tiga cara, mereka sering menyebut “empat” belajar lambang (4) dan belajar menulis kata “empat”. Anak memerlukan belajar lambang angka, tetapi dapat untuk menulis atau mengenali angka 4 dimana tidak sepenting memahami angka empat yang sesungguhnya.

5.      Pemecahan masalah
Pemecahan masalah adalah mempraktekkan matematika dalam cara bekerja. Pemecahan masalah dengan menggunakan konsep terjadi dimana saja, pada waktu santai, dll. Nilai dari memproses pemecahan masalah adalah proses mengambil tindakan dengan hubungan bahasa
untuk mempraktekan dalam banyak kemampuan matematika dan konsepnya ketika matematika berhubungan dengan situasi permasalahan telah selesai, kemampuan matematika dan konsep anak untuk menggambar telah menemukan solusi dalam bekerja akan lebih berarti bagi mereka.
Cara memecahkan masalah matematika pertama-tama yang paling penting adalah jangan terlalu cepat memecahkan masalah untuk anak, dorong anak untuk menjelajah dan mengamati dengan cara mereka sendiri, karena situasi masalah akan berkembang setiap waktu.

ICT dalam Pembelajaran Matematika untuk Anak Usia Dini
Pemanfaatan ICT sebagai media pembelajaran diamanatkan oleh UUD 1945 hasil amandemen. Meski demikian, perlu memperhatikan berbagai hal agar penggunaan ICT efektif mencapai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Sifat matematika telah berubah banyak karena ketersediaan ICT.
Menggunakan ICT dapat membantu siswa untuk: akses, pilih dan menginterpretasikan informasi; mengenali pola, hubungan dan perilaku; evaluasi secara cepat dan akurat sehingga anak bisa langsung memperbaikinya; meningkatkan efisiensi; menjadi kreatif dan mengambil risiko; memperoleh kepercayaan diri dan kemandirian.
Ketersediaan ICT juga berdampak pada bagaimana siswa belajar matematika karena dapat memungkinkan siswa untuk: melakukan percobaan dan belajar dari umpan balik; berpikir logis dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah; mengamati, mengeksplorasi dan menjelaskan pola dalam jumlah, bentuk dan data; membuat dan menguji hipotesis dan prediksi, yang dapat didasarkan pada data dalam jumlah besar; membuat generalisasi yang dapat didasarkan pada bukti-bukti eksperimental; mengembangkan kosa kata matematika dan bahasa.
Guru harus memilih atau membuat tugas-tugas matematika dengan menggunakan tampilan gambar yang menarik, bervariasi, merangsang rasa ingin tahu. Guru juga dapat menggunakan media lainnya seperti kalkulator, papan tulis interaktif dan alat bantu audiovisual lainnya, bersama-sama dengan berbagai paket perangkat lunak. Internet juga dapat digunakan untuk merancang tugas-tugas belajar yang efektif, seperti simulasi problem-solving.
ICT juga dapat merangsang seluruh kegiatan kelas dan dapat mempengaruhi cara guru dalam mengajarkan topic tertentu, seperti dalam mengenalkan konsep matematika..Meskipun menggunakan ICT tetapi peralatan tulis menulis tetap digunakan.
Menurut hasil penelitian Becta 2002, ditemukan bahwa dampak penggunaan ICT dalam pembelajaran matematika anak usia dini, sebagai berikut: 1) Konsentrasi - ini dicirikan oleh perhatian yang mengarahkan anak untuk suatu aktivitas, 2) Energi - Seorang anak akan menginvestasikan banyak energi dan aktivitas, mereka bersemangat dan terangsang, 3) Kompleksitas dan Kreativitas - mereka akan berusaha paling keras mereka untuk memecahkan masalah. Mereka menjadi yang paling kreatif, 4) Ekspresi wajah dan Posture - tanda nonverbal sangat penting dalam menilai bagaimana melibatkan anak, 5) Kegigihan - durasi ini adalah bahwa seorang anak akan bertahan pada suatu aktivitas. Hal ini sangat penting sebagai anak-anak dalam penelitian ini bertahan dan kurang mudah dialihkan dari suatu aktivitas, 6) Precision - Terlibat anak-anak menunjukkan perawatan khusus untuk pekerjaan mereka dan perhatian terhadap detail, 7) Waktu reaksi - anak-anak siaga dan siap untuk bereaksi cepat terhadap rangsangan, 8) Bahasa - ini ditandai oleh komentar-komentar anak-anak mengatakan selama atau setelah kegiatan misalnya mereka mengatakan mereka menikmatinya, 9) Kepuasan - Anak-anak akan menampilkan perasaan puas dengan prestasi mereka.
Syarat program edukasi yang baik adalah: 1)Program harus menghibur dan mendidik, 2) Tidak boleh ada games yang tidak memerlukan pemikiran yang akhirnya akan menghabiskan waktu anak, 3)Meningkatkan proses belajar anak dalam membaca, berfikir logis, pemecahan masalah, kreativitas dan kontrol gerakan.
Program matematika yang telah diuji berdasarkan proses pemilihan yang dilakukan oleh DiscoverySchool.com: 1) Transition Math Grades K-1 ( usia 4-6 tahun ), program ini adalah materi mengeksprorasi konsep-konsep dalam matematika lewat 30 halaman lembar kerja dengan 20 nomer latihan pengembangan dasar jam, mencocokkan bentuk, mengurutkan angka, 2) Stuart Little : His Adventures In Numberland ( Usia 4-7 tahun ), dengan Stuart Little sebagai tokoh utamanya, program ini memiliki games-games sederhana yang kaya dengan nilai-nilai pendidikan, 3) Time, Money and Fractions Grades 1-2 ( Usia 6-8 tahun ), dengan desain lembar kerja yang berwarna warni, program ini menawarkan 3 macam aktivitas open-ended agar anak dapat mengeksplorasi dan belajar tentang pengenalan koin, waktu, bagian-bagian kongruen dan pecahan, 4) I Love Math ( Usia 7-11 tahun ), memberikan misi-misi menantang yang mengharuskan anak untuk mempraktekkan keterampilan pemecahan masalah dan logika berfikir matematika untuk menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan, 5) Math and Science Excelerator ( Usia 8-11 tahun), koleksi yang terdiri dari 4 buah CD-Rom ini memberikan berbagai alat eksperimen bagi anak untuk belajar matematika dasar dan keterampilan dalam ilmu pengetahuan. Hasil akhirnya adalah pemahaman konsep dasar yang lebih kuat, meningkatkan keterampilan berfikir dan kemampuan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah mereka pelajari sebelumnya. (Tulisan  ini merupakan tulisan Diana dari Universitas Negeri Semarang).

DAFTAR RUJUKAN
Catherine,Glen Padua (2006). Computer Literacy. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Diane Trister Dodge,dll, The Creative Curriculum For Preschool, USA: Teaching Startegies, Inc, 2009
Donna Rice Hughes,Kids Online: Protecting Your Children in Cyberspace, 1998
Paimin, Joula Ekaningsih (1998). Agar Anak Pintar Matematika. Jakarta: Puspa Swara.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1991). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
Suriasumantri, Jujun S (1982). Filsafat Ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen)
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
UNESCO,Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Pendidikan,Jakarta:Gaung Persada, 2009
Catherine,Glen Padua (2006). Computer Literacy. Jakarta: Elex Media Komputindo.
http://www.bgfl.org/bgfl/custom/files_uploaded/uploaded_resources/11177/sharoncam.

Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Matematika

gambar diambil dari sini

Beberapa karakter yang dikembangkan dalam pembelajaran matematika di antaranya adalah:

1) Sikap teliti, cermat, dan hemat

Matematika disebut sebagai ilmu hitung karena pada hakikatnya matematika berkaitan dengan masalah hitung-menghitung. Pengerjaan operasi hitung untuk mencari hasil dilakukan dalam pembelajaran matematika mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Dalam pengerjaan operasi hitung, seseorang dituntut bersikap teliti, cermat, hemat, cepat, dan tepat.

Saat mengerjakan masalah matematika, seseorang sebenarnya dituntut untuk megerjakan dengan teliti dan cermat. Jangan sampai ada pengerjaan yang salah. Langkah demi langkah pengerjaan diteliti dan dicermati. Setelah diperoleh hasilnya, hasil itu perlu dicek lagi apakah sudah menjawab permasalahan atau tidak. Intinya, matematika mengajari seseorang untuk jeli dan berhati-hati dalam melangkah.
Matematika juga melatih sikap hemat, simpel dalam bertindak berbicara, selalu "to the point", dan tidak bertele-tele. Kalimatnya ringkas dan mudah dipahami.
Penggunaan simbol sebagai alat berkomunikasi dalam matematika juga memuat unsur pembelajaran sikap hemat.

2) Sikap jujur,tegas,dan bertanggung jawab

Matematika juga mengajarkan sikap jujur, tegas, dan benar. Tegas pada permasalahan diatas dimaksudkan seperti hasil perkalian bilangan bulat 3 x 4 pasti 12. Kita tegas mengatakan 3 x 4 = 12 adalah benar. Kalau bukan 12, kita tegas mengatakan itu salah.
Matematika juga berkenaan dengan masalah pembuktian. Langkah-langkah dalam pembuktian matematika harus berdasarkan pada hal-hal yang sudah diakui kebenarannya. Langkah demi langkah harus berdasarkan alasan yang kuat dan benar. Dengan cara inilah sebenarnya matematika mengajarkan sikap hidup benar dan bertanggung jawab. Dengan implikasi atau aplikasi dalam kehidupan, kita diajarkan bahwa setiap perkataan, kehendak, dan, perbuatan harus berdasar pada sumber yang benar.

3) Sikap pantang menyerah dan percaya diri

Seperti yang telah dirumuskan dalam pembelajaran matematika, matematika sebenarnya juga mengajarkan untuk bersikap pantang menyerah dan percaya diri.
Saat mengerjakan atau menyelesaikan masalah matematika, kita tidak boleh menyerah. Saat gagal atau tidak dapat menjawab, kita dituntut untuk mencari cara lain untuk menjawab. Kita harus percaya diri bahwa kita bisa. Kita coba terus, sampai akhirnya kita akan dapat menjawabnya. Kegagalan dengan suatu cara tidak boleh mengurangi semangat untuk mencari cara yang lain. Saat keberhasilan tercapai, rasa puas dan bangga akan tumbuh.

Pengertian Evaluasi, Pengukuran dan Penilaian dalam Pendidikan



A.    Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari sebenarnya kita sering membuat suatu kegiatan evaluasi dan selalu menggunakan prinsip mengukur dan menilai. Namun, banyak orang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian bahkan masih banyak orang yang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut dengan suatu pengertian yang sama.

Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktivitas mengukur biasanya sudah termasuk di dalamnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.

B.     Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi
Untuk memahami pengertian evaluasi, pengukuran dan penilaian kita dapat memahaminya lewat contoh berikut :
  1. Apabila ada seseorang yang memberikan kepada kita 2 pensil yang berbeda ukuran ,yang satu panjang dan yang satu lebih pendek dan kita diminta untuk memilihnya, maka otomatis kita akan cenderung memilih pensil yang panjang karena akan bisa lebih lama digunakan. Kecuali memang ada kriteria lain sehingga kita memilih sebaliknya.
  2. Peristiwa menjual dan membeli di pasar. Kadang kala sebelum kita membeli durian di pasar, sering kali kita membandingkan terlebih dahulu durian yang ada sebelum membelinya. Biasanya kita akan mencium, melihat bentuknya, jenisnya ataupun tampak tangkai yang ada pada durian tersebut untuk mengetahui durian manakah yang baik dan layak dibeli.
Dari kedua contoh diatas maka dapat kita simpulkan bahwa kita selalu melakukan penilaian sebelum menentukan pilihan untuk memilih suatu objek/benda. Pada contoh pertama kita akan memilih pensil yang lebih panjang dari pada pensil yang pendek karena pensil yang lebih panjang dapat kita gunakan lebih lama. Sedangkan pada contoh yang kedua kita akan menentukan durian mana yang akan kita beli berdasarkan bau, bentuk, jenis, ataupun tampak tangkai dari durian yang dijual tersebut. Sehingga kita dapat memperkirakan mana durian yang manis.
Untuk mengadakan penilaian, kita harus melakukan pengukuran terlebih dahulu. Dalam contoh 1 diatas, jika kita mempunyai pengaris, maka untuk menentukan pensil mana yang lebih panjang maka kita akan mengukur kedua pensil tersebut dengan menggunakan pengaris kemudian kita akan melakukan penilaian dengan membandingkan ukuran panjang dari masing-masing penggaris sehingga pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa “Yang ini panjang” dan “Yang ini pendek” lalu yang panjanglah yang kita ambil.
Dalam contoh yang ke 2, kita memilih durian yang terbaik lewat bau, tampak tangkai, maupun jenisnya. Hal itu juga diawali dengan proses pengukuran dimana kita membanding-bandingkan beberapa durian yang ada sekalipun tidak menggunakan alat ukur yang paten tetapi berdasarkan pengalaman. Barulah kita melakukan penilaian mana durian yang terbaik berdasarkan ukuran yang kita tetapkan yang akan dibeli.
Dari hal ini kita dapat mengetahui bahwa dalam proses penilaian kita menggunakan 3 ukuran, yakni ukuran baku (meter, kilogram, takaran, dan sebagainya), ukuran tidak baku (depa, jengkal, langkah, dan sebagainya) dan ukuran perkiraan yakni berdasarkan pengalaman.
Langkah – langkah mengukur kemudian menilai sesuatu sebelum kita mengambilnya itulah yang dinamakan mengadakan evaluasi yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan evaluasi sebelum melakukan aktivitas mengukur dan menilai.
Berdasarkan contoh diatas dapat kita simpulkan pengertian pengukuran, penilaian, dan evaluasi sebagai berikut :
  • Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan bersifat kuantitatif.
  • Penilaian adalah kegiatan mengambil keputusan untuk menentukan sesuatu berdasarkan kriteria baik buruk dan bersifat kualitatif. Sedangkan
  • Evaluasi adalah kegiatan yang meliputi pengukuran dan penilaian

C.    Evaluasi dalam Pendidikan
1.  Pengertian dan Prinsip Evaluasi
Secara harafiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Berikut ini beberapa pengertian evaluasi menurut para ahli : 
  • Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen. 
  • Menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. 
  • Zainul dan Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.
  • Menurut Bloom (1971), evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
  • Menurut Stufflebeam (1971), evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikna informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan. 
  • Arikunto (2003) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan.
  • Tayibnapis (2000) dalam hal ini lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat dicapai.
Dalam bukunya Designing Evaluator of Educational and Social Programme, Cronbach (1982) memberikan uraian mengenai prinsip-prinsip dasar evaluasi sebagai berikut:
  1. Evaluasi program pendidikan merupakan kegiatan yang dapat membantu pemerintah dalam mencapai tujuanya
  2. Evaluasi adalah suatu seni. tidak ada satupun evaluasi yang sempurna, walaupun dilakukan dengan teknuk yang berbeda – beda.
  3. Evaluasi merupakan suatu proses terus menerus sehingga didalam proses kegiatannya di mungkinkan untuk merevisi apa bila dirasakan adanya sesuatu kesalahan.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa (Purwanto, 2002).

Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan (Lehman, 1990).
Bloom,Cs (1971 : 8)  dan Wprthen dan Sanders (1973 : 20) menekankan bahwa evaluasi itu merupakan suatu proses sistematis untuk mengetahui bukti dalam menentukan peringkat penguasaan peserta didik dalam belajar dan efektifitas pembelajaran. dari sisi kegiatan belajar mengajar evaluasi merupakan pemberian pertimbangan, nilai dan arti terhadap data atau informasi yang dikumpulkan melalui pengukuran atau assessment. Evaluasi adalah pemberiam makna atau arti terhadap hasil pengukuran dan atau assessment dengan standar sehingga melahirkan keputusan jadi evaluasi itu lebih luas dan lebih komprehensif dari pada pengukuran maupun assessment.

Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.

2. Fungsi  atau Tujuan Evaluasi Pendidikan 
a. Fungsi evaluasi pendidikan dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan sebagai penyedia informasi
  • Fungsi Perbaikan. Fungsi perbaikan merupakan salah satu benang merah yang terabaikan selama ini. para pengambil kebijakan lebih banyak melihat kondisi momentum hasil evaluasi dari hasil belajar, namun sangat jarang yang menggunakan sebagai informasi untuk perbaikan pendidikan. ujian akhir nasional sebagian besar sekolah tahun 2003, dibawah 5, bahkan mata pelajaran tertentu mendapat nilai 2 atau 3. namun yang langsung di ubah adalah kurikulum tanpa melihat apa yang sesungguhnya terjadi dan mengapa hal itu terjadi.  Tidak ada evaluasi yang mendalam tentang kurikulum yang sedang berlaku. apakah kurikulum itu sudah dilaksanakan dengan tepat dan benar, mana yang tidak dikuasai, materi apa yang dirasa sulit atau apakah guru telah berfungsi dengan baik sesuai dengan tuntutan kurikulum? informasi itu perlu disediakan dengan melakukan evaluasi pendidikan, sehingga apa yang ingin diperbaiki tergambar dengan jelas.
  • Fungsi pengendalian proses dan mutu pendidikan. Melalui evaluasi pendidikan yang terfokus, terkendali, komprehensif dan terus menerus dapat tersedia informasi untuk mengendalikan mutu pendidikan, karena sesuatu yang salah dalam pelaksanaan dapat diperbaiki dan dibetulkan dalam penyusunan rencana atau pertemuan berikutnya.
  • Fungsi pengambilan keputusan yang berkaitan dengan peserta didik. Berdasarkan hasil evaluasi pendidikan dimungkinkan memberikan berbagai keputusan yang tepat kepada peserta didik, seperti mengidentifikasikan kondisi dan kebutuhan tiap peserta didik dan selanjutnya menyesuaikan perencanaan pembelajaran dengan kebutuhan mereka, menempatkan mereka dalam kelompok belajar, penerapan nilai-nilai siswa untuk tujuan seleksi atau pemahaman siswa dan kemajuan belajar yang dicapainya.
  • Fungsi Akuntabilitas Publik. Pendidik secara moral mendapat mandate dari public untuk membina dan mengembangkan peserta didik seoptimal mungkin melalui pendidikan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Pemerintah sesuai dengan beban tugas kenegaraannya, menyerahkan tugas dan tanggungjawabnya kepada pendidik untuk membantu membina dan mengembangkan warga masyarakat melalui pendidikan dengan kata lain, pendidik meaksanakan tugas mendidik dari public dan pemerintah. Sehubungan dengan itu, pendidik harus mengevaluasi seberapa jauh tugas yang diterimanya telah dilaksanakan dan menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas tersebut kepada public.
  • Fungsi Regulasi Administratif tentang sekolah. Tidak dapat di abaikan bahwa dengan informasi hasil evaluasi pendidikan akan memberikan regulasi administrative. Seorang pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan akan dapat mengatakan bagaimana bagusnya system sekolah A, bagaimana disiplin guru disekolah B, dan bagaimana fasilitas disekolah C, dll.
b. Fungsi Evaluasi Pendidikan menurut Bloom:
  • Fungsi diagnostic
  • Fungsi penempatan
  • Fungsi penentuan tingkat keberhasilan
  • Fungsi seleksi
3. Kegunaan Evaluasi Pendidikan
J. Stanley Ahmann dan Marwin D. Glock (1981) menyatakan ada emapat sub kelompok kegunaan evaluasi pendidikan yaitu:
  1. menaksir pencapain akademik pada tiap – tiap peserta didik
  2. mendiagnosis kesukaran – kesukaran belajar tiap – tiap peserta didik maupun kelas
  3. menaksir efektifitas pendidikan dari sisi kurikulum, prosedur pembelajaran, alat bantu material pembelajaran dan pengorganisasian atau pengaturan oerganisasi pembelajaran
  4. menilai kemajuan pendidikan dalam populasi yang luas, seperti menolong memahami masalah–masalah pendidikan dan mengembangkan kebijakan masyarakat dalam pendidikan.
4.  Subjek, Objek, dan Ruang Lingkup Evaluasi
  1. Subjek evaluasi dapat dibedakan atas dua jenis ;
  • Evaluator dalam (orang yang ikut terlibat dalam kegiatan). Evaluator dalam sangat memahami seluk beluk kegiatan, tetapi ada kemungkinan dapat dipengaruhi oleh keinginan untuk dapat dikatakan bahwa programnya berhasil. dengan kata lain, evaluator dalam dapat diganggu oleh unsur subjektivitas jika hal itu terjadi, data yang terkumpul kurang benar dan kurang akurat meskipun barang kali cukup lengkap.
  • Evaluator luar ( orang yang tidak ikut terlibat dalam kegiatan program ). Evaluator luar mungkin menjumpai kesulitan dalam memperoleh data yang lengkap karena ada hal-hal yang disembunyikan oleh para pelaksana program. namun data yang terkumpul dapat lebih objektif. berdasarkan klasifikasi tersebut, maka didalam kegiatan belajar mengajar guru dapat dikategorikan sebagai evaluator dalam, guru adalah pelaksana sehingga mereka mengetahui betul apa yang terjadi didalam proses belajar mengajar. untuk memperbaiki proses pengajaran yang akan dilaksanakan lain waktu, guru perlu mengetahui seberapa tinggi tingkat pencapaian dari tugas yang telah dikerjakan selama kurung waktu tertentu. dalam hal ini guru tidak dikhawatirkan akan kurang objektif penilaiannya karena hasil evaluasinya tidak akan dilaporkan atau diketahui oleh siapapun.
       2. Objek evaluasi
Untuk dapat mengenal objek evaluasi secara cermat kita perlu memusatkan perhatian kita pada aspek – aspek yang bersangkut paut dengan keseluruhan kegiatan belajar mengajar, untuk itu kita perlu mengenal model transformasi proses pendidikan formal disekolah. Didalam proses trasformasi calon siswa diumpamakan sebagai bahan mentah (Input) maka lulusan dari sekolah itu dapat disamakan dengan hasil olahan yang siap digunakan (Output). Dalam proses trasformasi ini evaluasi dilakukan sebelum, selama dan sesudah terjadi proses dalam kegiatan sekolah.
Jika digambarkan dalam bentuk diagram terlihat sebagai berikut :

   Gambar proses transformasi belajar – mengajar

Keterangan:
  1. Input atau masukan. Bakat intelektual merupakan salah satu aspek yang perlu ditelusuri dalam langkah evaluasi. aspek lainya misalnya keadaan fisik seperti kesehatan atau kerentangan seseorang terhadap penyakit. aspek- aspek yang ada pada siswa tersebut perlu dipertimbangkan agar guru dapat menunaikan tugas mengajar dengan baik.
  2. Materi atau kurikulum. Di Indonesia kurikulum berlaku secara nasional. kurikulum ini disusun bersama oleh direktorat yang mengelola jenjang dan jenis sekolah bersama dengan Pusat Pegembengan Kurikulum dan Sarana Pendidikan (Pusbangkurandik) Balitbang Dikbud. Dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum baru Balikbang dan Direktorat Pendidikan menyiapakan konsep terlebih dahulu kemudian dalam forum seminar dan lokakarya dikumpulkan orang orang yang dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mengembangkan kurikulum antara lain ; ahli bidang studi, ahli sikologi pendidikan,  ahli metode mengajar dan para guru yang sudah mempraktekkan kurikulum yang sudah digarap tersebut disekolah.
  3. Guru. Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar . kepada guru diserahkan untuk digarap bahan metah berupa siswa yang menginginkan pengetahuan ketelampilan dan sikap-sikap baik yang akan digunakan dalam masa depannya. dengan modal  materi yang tertera sebagai kurikulum guru berupaya agar siswa dapat menguasai apa yang disediakan sekolah untuk nya.
  4. Metode atau pendekatan dalam mengajar. Evaluasi terhadap metode mengajar merupaka kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar, pendekatan dan strategi pembelajaran. Metode mengajar adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar misalnya; ceramah, Tanya jawab, experiment dan lain-lain. Pendekatan merujuk pada bagaimana kelas dikelola misalnya; individual, kelompok, dan clasikal. strategi pembelajaran merujuk kepada bagaimana guru mengatur keseluruhan proses pelajar mengajar meliputi mengatur waktu, pemenggalan penyajian, pemilihan metode dll.
  5. Alat pelajaran atau media pendidikan, sebelum guru melaksanakan kegiatan mengajar, guru telah memilih alat yang kira-kira dapat membantu melancarkan atau meperjelas konsep yang diajarkan. sasaran evaluasi yang berkenaan dengan saran pendidikan adalah kelengkapannya, ragam jenisnya, kemudahan untuk dioperasikan dan lain-lain.
  6. Lingkungan manusia. Yang dapat digolongkan sebagai lingkungan manusia adalah; kepala sekolah, guru-guru, pegawai sekolah, dan orang-orang lain yang dapat memperkuat motivasi siswa dalam belajar.
  7. Lingkungan bukan manusia, termasuk kategori ini misalnya suasana sekolah, halaman sekolah, keadaan gedung, kebun sekolah dan lain-lain.
3. Ruang lingkup evaluasi pendidikan
Ruang lingkup evaluasi pendidikan mencakup : materi yang diberikan dan satuan pelajaran yang disusun, peserta didik, pendidik dan sumber belajar, proses pendidikan, media belajar, dan hasil belajar. dengan demikian, evaluasi pendidikan mencakup evaluasi konteks, evaluasi komponen – komponen proses belajar-mengajar, evaluasi proses dan eavaluasi hasil. disamping itu evaluasi pendidikan juga harus dikaitkan dengan program muatan local atau program tambahan yang lain yang merupakan bagian dari evaluasi pendidikan secara keseluruhan.


D.    Penilaian Dalam Pendidikan
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

E.     Pengukuran dalam pendidikan
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.

Menurut Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran (Measurement) adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan. Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu: 1) penggunaan angka atau skala tertentu; 2) menurut suatu aturan atau formula tertentu.

Measurement (pengukuran) merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif (system angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka (Alwasilah et al.1996). Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli (Zainul & Nasution, 2001).

Dengan demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau atributnya. Senada dengan pendapat tersebut, Secara lebih ringkas, Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.

F.     Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran
Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan.Penilaian bersifat kualitatif.
Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing :
  • Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
  • Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.
  • Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alwasilah, et al. (1996). Glossary of educational Assessment Term. Jakarta: Ministry of Education and Culture.
  2. Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
  3. Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB
  4. Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment and Portfolio Assessment-Its Theory and Practice. Japan: Shizuoka University.
  5. Lehmann, H. (1990). The Systems Approach to Education. Special Presentation Conveyed in The International Seminar on Educational Innovation and Technology Manila. Innotech Publications-Vol 20 No. 05.
  6. Stiggins, R.J. (1994). Student-Centered Classroom Assessment. New York : Macmillan College Publishing Company
  7. Tayibnapis, F.Y. (2000). Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta
  8. Yusuf A.Muri.  2005. Evaluasi Pendidikan. Padang: Universitas Negeri Padang 
  9. Zainul & Nasution. (2001). Penilaian Hasil belajar. Jakarta: Dirjen Dikti.

Baca Juga :


BAHAN PERSIAPAN UN 2013
SOAL TRY OUT UN SMA JURUSAN IPS
SOAL TRY OUT UN SMA JURUSAN IPA
SOAL TRY OUT UN SMP
SOAL TRY OUT UN SD
Prediksi Soal IPA Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2012/2013

Amerika Serikat akan Mengucurkan Dana Senilai Rp. 981,5 Milyar Untuk Pendidikan Indonesia

 

Jakarta - Kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary R Clinton di Indonesia pada hari Senin kemarin di awali dengan jamuan makan malam bersama Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa.

Pada kesempatan itu, Hillary menyampaikan dalam pidato resminya tentang agenda kerjasama antar kedua negara. Dalam pidato itu, ia mengatakan bahwa untuk tahun depan agenda kerjasama AS-RI akan memusatkan perhatian kepada sektor pendidikan. "Pendidikan tetap menjadi modal pembangunan ekonomi dan kesejahteraan yang paling penting" ujarnya.


Sedangkan untuk bentuk kongkrit kerjasama kedua negara itu, Amerika Serikat akan memberikan suntikan dana senilai USD 103 Juta atau senilai dengan Rp. 981,5 milyar. Suntikan dana tersebut diperuntukan penguatan jenjang pendidikan dasar Indonesia senilai USD 80 juta, dan beasiswa mahasiswa Indonesia di AS seilai USD 23 juta.

Dalam pidato usai makan siang itu, Hillary juga melontarkan pujian kepada Indonesia yang baru saja sukses menjadi ketua ASEAN. Menurutnya, Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan.

Hillary melanjutkan, bahwa penuntasan konflik tersebut tidak oleh berada dalam tekanan atau intervensi pihak asing. Dia juga mengatakan bahwa akan diadakan pertemuan lanjutan dengan pemerintahan Tiongkok untuk membahas penyelesaian konflik tersebut.

Berikutnya, pembicaraan Hillary lebih menyentuh tentang penegakan HAM di Indonesia. Ini tidak terlepas dari konflik berlatarbelakang agama yang kerap terjadi akhir-akhir ini. Menurut Hillary, sebagai negara demokrasi terbesar di ASEAN dan terbesar ketiga di dunia, Indonesia diharapkan mampu mengayomi kelompok minoritas. "Termasuk minoritas dalam urusan sekte (agama, red). Indonesia harus damai," katanya.

Pada akhir pidatonya, Hillary menekankan jika aksi teror masih menjadi ancaman di dunia. Termasuk bagi AS sendiri. Dia misalnya, mengutuk aksi teror di kantor konsulat AS di Pakistan.

Hillary juga mengatakan, Indonesia tidak lepas dari ancaman teror. Menurutnya, aksi teror saat ini sudah mengarah pada upaya politik. Yaitu untuk mengeruk suara masyarakat.

Media Belajar, Latihan, dan Permainan Online Siswa



Banyak situs yang menyediakan media belajar,
latihan, maupun permainan interaktif secara online untuk anak-anak maupun siswa
mulai dari tingkat SD / MI, SMP / MTs., SMA / SMK / MA, maupun Perguruan
Tinggi. Situs-situs yang menyediakan media pembelajaran secara online tersebut
diantaranya ada yang dikelola pemerintah (seperti Kemendikbud), namun tidak
sedikit yang dikelola oleh swasta.



Dunia

Pembahasan Soal Statistik Matematika SMA Menggunakan Rumus Cepat

Bank soal matematika akan membagikan ebook pembahasan soal statistik matematika SMA dengan menggunakan rumus cepat. Pembahasan soal ini dibuat oleh Muhammad Zainal Abidin, beliau adalah seorang pengajar matematika sekaligus sebagai admin dari http://meetabied.wordpress.com. Secara ringkas, pembahasan soal statistik matematika ini mencakup materi SNMPTN dan materi UN. 


Banyak siswa yang mengeluh betapa sukarnya pelajaran matematika, begitu juga pada materi statistik matematika ini.Umumnya mereka memiliki kendala dalam memahami simbol-simbol yang beragam pada rumus statistik. Selain itu lemahnya kemampuan siswa dalam melakukan analsis awal. Semoga dengan adanya Pembahasan Soal Statistik Matematika SMA Menggunakan Rumus Cepat ini dapat membantu para siswa-siswi SMA yang ingin terus belajar matematika.



Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.